Okky Agassy Firmansyah

Okky Agassy Firmansyah

Selasa, 04 Oktober 2016

Menikah Muda, Kik?

Bagi banyak kalangan remaja, khususnya di era sekarang banyak yang me-lumrahkan “pacaran”. Aku tak sepenuhnya setuju hal itu.
Ya sebagai manusia biasa, apalagi sebagai remaja ababil, dulu saya juga pernah melakoni fase tersebut di masa SMA.
Setelah beranjak kuliah, saya putuskan untuk tidak berperan dalam drama logia masa SMA tersebut. Done
CINTA
5 huruf penuh makna dimana setiap insan manusia memiliknya.
Jika dikatakan dalam Al-Quran. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Takdir dan Janji Allah Azza Wa Jalla itu sungguh jelas dan pasti, namun sayang yang tak pasti adalah hati manusia.
Sekiranya ini matematika rekayasa, Hati saya sebagai manusia pun masih banyak sekali faktor ‘invers’ . Faktor pembalik. Ataupun premis premis kehidupan yang sering kali berlainan, antara hati dan kenyataan. Antara keinginan Duniawi ditengah batas-batas koridor agama islami.
Melihat teman sedang bercerita bersama ‘pasangan’ nya mungkin di dalam hati kecil akan muncul juga keinginan yang sama. Apalagi melihat teman sebaya sudah memutuskan untuk menikah. Wah! 
Allahu akbar! Allah Maha Romantis.
Dalam benak saya saat ini, masih terlihat kacamata pernikahan adalah sebuah momemtum dimana kemenangan cinta dunia berada. Dimana kita mengucapkan janji untuk menjadi imam dari seorang wanita, menjadi imam untuk menuju JannahNya.
Senang pula sepertinya, ada yang akan membangunkan kita ataupun menemani kita untuk menghidupkan sepertiga malam. Atau sekadar mengingatkan waktu dhuha disibuknya jam kerja. Lagi juga akan ada yang mempersiapkan buka puasa untuk kita disetiap puasa sunnah kita.
akan ada waktu dimana setiap kita membuka mata kita, seseorang bidadari utusanNya dengan wajah lembut ikhlas menyapa.
Pulang kerja, ada dia yang menunggu kita dirumah. Membuat kan secangkir teh madu hangat, dan menemani kita berbicara ringan, mendengarkan keluhan-keluhan urusan kantor duniawi yang pasti penuh sesak dengan masalah ekonomi.
Sambil menunggu adzan isya, waktu yang sedikit itu dapat kita gunakan untuk murojaah hafalan Al-Quran kita. Saling setor, koreksi serta saling menyemangati dalam ikhtiar menjadi seorang pejuang Allah dengan Al-Quran.
Indah ya? 
Sepertinya๐Ÿ˜Š
Ada banyak faktor yang mungkin belum saya singgung diatas, salah satunya adalah Dosa.
Menjadi imam, adalah menjadi penanggung jawab dosa-dosa yang sekiranya diperbuat oleh anak dan istri kita. 
Akan menjadi salah kita, ketika kita tidak bisa mendidik anak istri kita sesuai dengan JalanNya. 
Jalan lupa. Itu adalah hukum mutlak bagi seorang lelaki. Imam.
Dari ibu, untukku. 
Bu, saya umur berapa boleh menikah?
“Umur 25 juga ndak apa le kalau kamu mau menikah”
Berarti 2 tahun lagi bu.
“Loh iya? Cepet ya waktu berlalu”

lalu pertanyaannya, ketika restu menikah muda oleh ibu sudah ada. Kamu siap atau ndak?
Saya pribadi agaknya juga tidak begitu suka dengan variabel “pacaran”. Karena menurut saya itu lebih menghambat perjalanan karier. Dimana kita masih berfungsi untuk menjadi elang yang bebas mencari kehidupan. Ingin terbang kesana kemari untuk mencari ilmu. Tak harus dikekang oleh aturan pacaran yang notabene menjiplak rumah tangga!.
Ada faktor ibadah. Faktor ilmu. Faktor pendidikan. Serta faktor lain yang harus dikejar.
Hanya saja, saya suka jika berteman. Saya ingin segera izin kepada orang tua mu. Ketika saya sudah mapan bekerja setelah lulus nanti. Setahun kemudian, saya sudah ber-umur 25 Tahun. 25 Yo! Berarti waktu untuk menimba ilmu dikehidupan Rumah Tangga!
Kamu mau tidak, menjadi teman dalam pencarian JannahNya? 
Maaf saya bukan orang yang pandai agama, bukan pula lulusan pesantren. Namun. Saya pula itikad kuat untuk selalu mengingat JalanNya.
Bagimu, tulang rusukku. Kumohon. Tunggu sebentar lagi. Biarkan kita dipertemukan pada waktu yang tepat, dengan kesiapan yang tepat pula.
Biarkan sekarang kita berjalan dengan jalan kita sendiri sendiri. Ber-ibadahlah dengan amaliyah amaliyah kita sendiri.
Saya yakin janji Allah itu pasti. Lelaki yang baik. Akan mendapat wanita yang baik pula๐Ÿ˜Š.
Allah Maha Romantis. ☺๐Ÿ˜Š
Saya sudah bilang ke ibu, puasa lalu. Bahwa saya akan meng-hadiahkan sebuah mahar Hafalan Surat dari Al-Qurannul Kariim.
“Mahar Cinta, dari Sang Maha Cinta”
Wallahua'lam. 
Semoga masih diberikan kesehatan untuk selalu menjalankan IbadaNya. Dan semoga kita semua selalu dalam keteguhan imanNya. ๐Ÿ˜Š
Aamiin.๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜
Nb : tulisan ini muncul di kepala saya dengan edisi baper kepada mas gun dan mbak apik. Haha. Barakallah mas mbak, keep inspiring!

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Saya pernah membaca sebuah artikel, dimana disitu disebutkan. salah seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW berkata : 
“Aku tidak peduli dengan keadaan senang susah dan sedihku, karena aku tidak tahu mana yang lebih baik untuk ku, menurut Rabb ku”
Ya! memang benar sekali apa yang dikata oleh Sahabat Nabi tersebut. hal tersebut sangat linier dengan apa yang dikatan di Al-Quran surah Al-Baqoroh ayat 216. 
“apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. dan begitu pula sebaliknya. apa yang menurut kita buruk, mungkin itu lebih baik untuk kita”
——
realitanya kita hanyalah manusia biasa. membalikkan bumi, membuat tsunami saja Allah mudah, apalagi membolak balikkan hati kita? iya kan?
lalu kemaren hari aku membca artikel dari sebuah repost tumblr
cuplikannya : 
“ Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.
Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya. 
Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati.
Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana Adam yang menanti Hawa di sisi.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan? 
Taat yang dalam suka maupun tidak suka.
Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.
Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.”
———–
apa yang bisa kita pahami dari beberapa mukadimah yang saya sebutkan diatas?
—————–
kita hanya manusia biasa. dimana frekuensi iman kita itu fluktuatif. kadang diatas dan dibawah. mari selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari hari kemarin. 
belajar untuk selalu percaya “Rencana Allah Selalu Indah Pada Waktunya”
jika memang sekarng masih belum dipertemukan dengan jodoh, ataupun sekarang sedang dilanda masalah hati. Percaya saja, 
“mungkin dia dihadirkan dengan tujuan yang lain. Ditujukan agar kita selalu senantiasa belajar bersyukur, selalu  senantiasa belajar  berharap hanya kepada Satu, Allah Azza wa Jalla. bukan makhlukNya. “
Semangat REKK!!!! :)