Okky Agassy Firmansyah

Okky Agassy Firmansyah

Sabtu, 03 Mei 2014

Dan sepertinya, aku "masih" belum bisa mencintai "lagi"




Nama ku kiki, mahasiswa asal kota kediri. Postur tubuh ku biasa – biasa saja, tak ada yang istimewa kecuali dua lesung pipi yang ku punya, dan sekarang mencoba merantau di kota pahlawan, Surabaya. Bukan, bukan untuk bekerja, melainkan untuk menuntut ilmu sebagai bekal mencari pekerjaan dikemudian hari. Sudah 2 tahun aku kuliah di ITS di jurusan Teknik.
Seperti biasanya, saat menjadi mahasiswa tahun kedua, pasti mempunyai tanggung jawab yang dibebankan oleh birokrasi untuk menjalankan masa orientasi mahasiswa baru, atau yang disebut ospek. Tidak seperti tahun – tahun sebelumnya, birokrasi sekarang lebih disiplin dan mempunyai koridor – koridor kegiatan yang lebih terperinci dan terjaga, selalu dipantau dan diawasi langsung oleh birokrasi. Mau apa dikata, ya dijalankan saja lah amanah dari birokrasi, kan kita juga dibawah birokrasi, kita hanya penumpang. Kalo orang surabaya bilang “Yok opo maneh le, wes keadaane ngene, nasib yo dilakoni”.
Jika dibilang masa – masa berat, juga bisa, 6 bulan sudah masa orientasi mahasiswa baru telah selesai. Masa dimana emosi, waktu dan tenaga yang sangat terkuras. Tuntutan dari pihak himpunan jurusan, warga jurusan, dan birokrasi yang tak pernah sama membuat setiap malam terasa kurang nyenyak tidur karena memikirkan konsep.
Kurasa cukup sampai disini. Maksudnya mukodimahnya, bukan ceritanya. Hehe
Saat mejadi panitia masa orientasi, sudah selayaknya untuk belajar profesional. Dalam arti kita menjaga hubungan antara kakak dan adik tingkat ya sewajarnya, tidak dekat dan tidak jauh. Namanya saja masih berusaha dan belajar, ada saja teman ku yang kebobolan profesionalismenya. Sudah nggak kuat kali ya, hehe. Maksudnya sudah nggak kuat jomblo. Kalau aku sendiri, alhamdulilah berhasil menjaga amanah sampai detik – detik selesainya massa orientasi.
Guyonannya gini sama temen – temen, “eh sudah selesai acara, yang mau start ayo bareng – bareng”, Haha. Memang sejak selesai orientasi, keadaan sudah berubah 180 derajat. Dari yang cuek menjadi ramah dan dari tak ada senyum sekarang bertabur senyum.
Aku sendiri awalnya tak ada siapa – siapa yang menarik perhatian, tapi pada satu waktu akhirnya ada, hehe.
Namanya firda, asal mojokerto sepertinya. Lucu dan imut kalau pandang, senyumnya yang lebar membuat hati lebih tenang. Terlebih lagi, anaknya yang supel, gampang berbaur dan ramah pada semua orang, dan tentunya kesederhanaanya yang membuatnya terlihat lebih natural. Oh ya, dia punya pipi yang tembem J
Terlihat alay aku memandangnya? Terserah apa kalian baca deh, hehe.
Setelah sekian waktu aku diam, aku cerita ke temen – temen deket ku. Pada waktu awal sih itu mereka Cuma mendengar aja sih, nggak ada respon yang berlebih (alay).
Keesokan harinya, pas lagi ada firda duduk di meja hijau jurusan, aku bersama teman – teman ku lewat. Tak kusangka, ada kompor meleduk. (red : kompor = orang yang suka mengumbar – ngumbar ).
“eh, man, ada adek firda”
“adek krudung merah”
Nah, gimana gak salah tingkah coba aku. Lupa sangat kalo teman – teman ku ini ada yang mempunyai bakat kompor ditambah TOA Masjid Agung Surabaya.
Sejak saat itu, aku sering terkena ledakan kompor oleh teman – teman sendiri. Aduh. Akibatnya aku jadi sungkan sediri sama dek firda, dan dia pun juga begitu sepertinya.
Sebenarnya ini salah paham. Hmm.
Aku hanya mengaguminya seperti yang kukatan tadi. Mengagumi belum tentu punya arti akan mencintai dan menjadikan pacar. Hanya masih sebatas mengagumi dan menyukai.
Jujur saja, aku masih belum berani untuk kembali pacaran. Bukan karena sakit hati atau apa, tapi karena IBU. Ibu berkata “ojo pacaran dikek, sekolah”, cukup jelas.
Pernah aku bandel saat SMA, tak mengindahkan apa nasehat ibu, dan nekat pacara. (namanya masih ababil). Dan itu berakibat fatal. Sangat fatal.
Setelah lulus SMA, saat mencari perguruan tinggi (dengan keadaan masih pacaran), aku sangat sulit sekali dalam mencari sekolah. Nasib? Iya nasib. Tapi nasib itu bisa dirubah. Ridho ALLAH, awalnya dari ridho seorang Ibu.
Cukup sejak saat itu aku mengindahkan nasehat ibu.
Tentunya temen- temen juga tahu, hidup berkeluarga itu tak semudah mengirim sms kepada pacar
“sudah makan belum? Segera makan yaa”
haha
Untuk saat ini, nasi sudah menjadi bubur. Adaikan ada waktu untuk bicara pada dek firda, pastinya aku akan bercerita jujur.
Jikalau memang jodoh, 2 – 3 tahun sekolah dulu, dan pastinya akan bertemu.
Iya kan? Gadis berkerudung merah ? :)